kompak_gt loh

forum etika bisnis dan profesi


    Ikatan Dokter Indonesia

    Share
    avatar
    Dian
    Admin

    Jumlah posting : 7
    Join date : 03.04.11
    Age : 27
    Lokasi : semarang

    Ikatan Dokter Indonesia

    Post  Dian on Sun Apr 03, 2011 6:51 pm


    Ikatan Dokter Indonesia
    Saat ini sudah waktunya upaya peningkatan program penanggulangan HIV-AIDS yang komprehensif sehingga dapat berpengaruh secara nyata dan optimal dalam penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia, termasuk keterlibatan peran organisasi profesi kesehatan, seperti IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS secara nasional.

    Selain adanya percepatan epidemi HIV, Indonesia juga menghadapi masalah epidemi pengunaan napza (narkoba dan zat adiktif), yang masih menjadi kontribusi utama penularan HIV, selain itu adanya peningkatan transmisi dari blood-borne virus, seperti penularan virus hepatitis B dan C, serta HIV.

    Perluasan transmisi semakin kompleks karena penularan seksual yang tidak dapat dihentikan, karena rendahnya pemakaian kondom pada seks berisiko.

    Dampak epidemi HIV-AIDS tidak mudah ditanggulangi, adanya masalah koinfeksi pada orang-orang yang terkena HIV. Problema koinfeksi HIV dengan HCV, HBV, TB, serta penyakit infeksi lainnya mendorong penanganan yang lebih komprehrensif. Koinfeksi tidak saja dapat memperburuk status kesehatan orang dengan HIV, juga HIV itu sendiri mempercepat situasi dampak buruk infeksi lainnya.

    Pada umumnya tenaga profesi kesehatan di Indonesia belum siap menghadapi epidemi HIV dengan problema koinfeksinya, sehingga diperlukan advokasi untuk pengembangan kurikulum kedokteran dan pendidikan dokter berkelanjutan (Continuing Professional Development) yang dapat meningkat kompetensi dokter Indonesia dalam mengenali dan menangani koinfeksi HIV dengan pathogen lainnya.

    Selain itu penularan HIV semakin meluas ke pasangan seksnya (isteri) dan anaknya. Pada umumnya ketahanan hidup anak dengan HIV juga masih buruk.

    Semua permasalahan ini mendorong Ikatan Dokter Indonesia untuk meningkatkan perannya dalam penanggulangan HIV di Indonesia. Peran yang perlu dijalani sebagai organisasi profesi adalah selain mendorong para anggotanya – para dokter yang bekerja di wilayah Indonesia – untuk tidak saja lebih peduli, tetapi juga terlibat aktif dalam upaya penanggulangan yang bersifat komprehensif dan kontinyu, yaitu dari upaya pencegahan, diagnosis, pengobatan serta dukungan psiko-sosial. Diharapkan tidak perlu terjadi lagi perilaku yang diskriminatif dan stigmatisasi oleh profesional kesehatan dalam hal yang terkait dengan HIV-AIDS.



    PB IDI dalam melaksanakan kegiatan akan bekerjasama dengan berbagai pihak antara lain organisasi profesi dokter yang di bawah payung IDI, serta organisasi profesi kesehatan lainnya seperti Ikatan Bidan, Persatuan Dokter Gigi dan Ikatan Apoteker. Selain PB IDI bermitra erat dengan semua unsur di lingkungan Departemen Kesehatan RI. Dalam menggalnag kerjasama dengan organisasi internasional bekerja sama dengan WHO dan ASHM.

    PB IDI Anjurkan Sirkumsisi & Penggunaan Kondom: untuk Cegah Penularan HIV

    Sirkumsisi dan Aktifkan Lagi Kampanye Penggunaan Kondom: Elemen Penting untuk Cegah Penularan HIV-AIDS

    Pokja HIV-AIDS PB IDI mendorong agar para dokter Indonesia menganjurkan penggunaan kondom pada siapa saja yang berisiko terkena IMS, termasuk HIV

    Pendahuluan

    Seperti telah kita ketahui bersama bahwa dalam beberapa tahun terakhir terjadi percepatan laju penularan HIV (virus penyebab AIDS) dan infeksi menular seksual (disingkat IMS, yaitu seperti sifilis, gonore) di Indonesia.

    Sejak satu dekade terakhir penularan HIV (virus penyebab AIDS) melalui penggunaan bersama alat suntik narkoba meningkat cukup tajam. Paling tidak, setengah dari pemakai narkoba suntik telah terkena HIV. Seringkali fenomena ini dikenal gelombang pertama dari epidemi HIV di Indonesia.

    Selanjutnya penularan HIV terus berlanjut, karena sebagian besar pengguna narkoba (yang separuhnya telah terinfeksi HIV) juga melakukan seks yang cukup aktif, antara lain membeli atau menjual jasa seks. Dapat diramalkan bahwa dapat dilihat peningkatan kejadian infeksi pada pelaku seks aktif dengan pasangan seks yang banyak dan berganti.

    Angka Kejadian IMS pada Penjaja seks tertinggi di Asia

    Selain itu, angka kejadian infeksi menular seksual (seperti Gonore dan Klamidia) pada penjaja seks perempuan di beberapa kota di Indonesia tercatat sangat tinggi di Asia. Hasil survai Departemen Kesehatan RI pada tahun 2005 pada penjaja seks perempuan di beberapa kota mencatat sekitar 39% sampai 61% mengidap Klamidia atau Gonore.

    Padahal adanya infeksi menular seksual dapat mempermudah proses penularan HIV pada kegiatan seks. Hasil peneilitian mengindikasikan bahwa infeksi menular seksual meningkatkan risiko penularan sampai 2-3 kali.

    Yang menambah keprihatinan bersama, adanya resistensi dengan obat antibiotika yang tersedia dan terjangkau serta mengkonsumsi obat antiobiotik yang mudah didapat di mana-mana sehingga menyulitkan upaya pengobatan infeksi menular seksual. Hal ini disebabkan perilaku mengobati sendiri bila ada gejala infeksi menular seksual.

    Diperkirakan lebih dari 3 juta lelaki di Indonesia yang rajin membeli seks, dan separuh dari lelaki tersebut mempunyai pasangan tetap, atau isteri. Dapat diperkirakan penularan dapat terus berlanjut ke istri, walaupun para isteri tidak mempunyai perilaku seks dengan banyak pasangan. Fenomena tersebut mendorong terjadi epidemi HIV seperti sekarang dan semakin semakin nyata dibandingkan beberapa tahun yang lalu.

    Diperkirakan telah lebih dari 200.000 orang terinfeksi HIV di tahun ini dan diramalkan pada tahun 2020 akan meningkat mendekati angka 2 juta, bila upaya pencegahan tidak dilakukan untuk menekan penularan melalui seks berisiko.

    Dalam kondisi seperti ini harus diaktifkan lagi kampanye peningkatan penggunaan kondom sebagai alat kesehatan yang secara ilmiah telah terbukti dapat menangkal penularan infeksi menular seksual termasuk HIV. Tidak ada alat atau teknologi kesehatan yang mempunyai kemampuan pencegahan infeksi seperti kondom. Tidak juga teknologi vaksinasi untuk mencegah beberapa penyakit menular.

    Hendaknya upaya promosi kondom jangan diartikan sebagai anjuran untuk melakukan kegiatan seks berisiko. Siapapun yang masih melakukan kegiatan seks berisko dianjurkan sangat untuk menggunakan kondom agar dirinya terhindar dari penularan serta tidak menularkan kepada yang lain. Bila tidak mau menggunakan kondom, sebaiknya menghentikan perilaku seks berisiko.

    Sirkumsisi dapat mengurangi risiko penularan

    Salah satu temuan yang berangkat pengamatan observasional serta eksperimental di masyarakat, ternyata perilaku sirkumsisi pada lelaki dapat mengurangi peluang terkena HIV. Salah satu penjelasannya adalah sebagian kulit kelamin yang dibuang ketika disrkumsisi, ternyata dapat dimasuki HIV, walaupun tidak terdapat ”pintu masuk” berupa penyakit kelamin. Hasil Survai Departemen Kesehatan 2006 juga diindikasikan bahwa penduduk tanah Papua yang tidak disirkumsisi berisiko lebih tinggi untuk terkena HIV.

    Sirkumsisi dapat mengurangi risiko rata-rata sepertiga sampai setengahnya dibandingkan pada yang tidak disirkumsisi. Dianjurkan pada lelaki sebelum memasuki usia seksual aktif untuk dilakukan sirkumsisi, sebagai cara untuk menjaga higiene alat kelamin dan mengurangi risiko terkena HIV.

    Ternyata sirkumsisi hanya memberikan perlindungan parsial, karena itu pada lelaki yang juga telah disirkumsisi dianjurkan perlu tetap menggunakan kondom pada yang melakukan kegiatan seks berisiko.

    Menurunkan kejadian infeksi menular seksual

    Cara terbaik untuk menghindari terkena infeksi menular seksual adalah dengan tidak melakukan seks berisiko, yaitu tidak berganti dan punya banyak pasangan seks, atau tidak punya pasangan seks yang berperilaku berisiko.

    Bila tidak maka pemakaian kondom pada setiap kegiatan seks menjadi keharusan, termasuk dengan pasangan tetapnya, agar tidak terkena IMS atau menularkan kepada yang lain termasuk pasangan tetapnya.

    Bila ada gejala IMS segera berobat dengan benar, karena dapat diobati dan dapat menurunkan risiko penularan HIV.

    PB IDI perlu mempromosikan sirkumsisi pada lelaki sebelum memasuki usia seksual aktif.

    Pokja HIV-AIDS PB IDI perlu menyatakan bahwa kondom adalah alat kesehatan yang mampu mencegah penularan infeksi menular seksual bila digunakan pada setiap kegiatan seks berisiko. Selain itu mendorong para dokter dan tenaga kesehatan lainnya untuk menganjurkan pada masyarakat untuk pakai kondom pada setiap seks yang berisiko. Cara yang mudah, murah, dan aman dibandingkan setelah terkena penyakit.

      Waktu sekarang Tue Sep 26, 2017 10:32 pm