kompak_gt loh

forum etika bisnis dan profesi


    Etika Bisnis dan Profesi

    Share
    avatar
    Nur Azizi

    Jumlah posting : 7
    Join date : 03.04.11

    Etika Bisnis dan Profesi

    Post  Nur Azizi on Tue Apr 05, 2011 9:50 pm

    Etika Bisnis dan Profesi yang Luhur


    Etikaadalah “prinsip tingkah laku yang mengatur
    individu dan kelompok”.
    Profesi adalah bagian dari pekerjaan yang menuntut
    seseorang untuk memiliki pengetahuan, keterampilan serta keahlian. Pengetahuan
    didapatkan dari pendidikan, khususnya pendidikan formal (lewat teori).
    Keterampilan serta keahlian didapat dari pengalaman seseorang (Lewat praktek).
    Jadi
    Etika Profesi adalahprinsip tingkah laku atau aturan yang
    dijalankan untuk menjalankan profesinya secara profesional.

    CIRI-CIRI PROFESI
    Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi,
    yaitu :
    1. Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini
    dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
    2. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap
    pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
    3. Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus
    meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
    4. Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu
    berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa
    keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk
    menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.
    5. Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi.

    PRINSIP-PRINSIP ETIKA
    PROFESI :

    1. Tanggung Jawab
    - Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
    - Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan rang lain atau mastarakat
    pada umumnya.
    2. Keadilan
    Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi
    haknya.
    3. Otonomi
    Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan diberi kebebasan
    dalam menjalankan profesinya.
    4. Prinsip Integritas Moral
    Prinsip ini merupakan tuntutan kaum profesional atas dirinya sendiri bahwa
    dalam menjalankan tugas profesinya ia tidak akan sampai merusak nama baiknya
    serta citra dan martabat profesinya.

    Bisnis Sebagai Profesi
    Luhur :

    Sesungguhnya bisnis bukanlah merupakan profesi, kalau bisnis dianggap sebagai
    pekerjaan kotor, kendati kata profesi, profesional dan profesionalisme sering
    begitu diobral dalam kaitan dengan kegiatan bisnis. Namun dipihak lain tidak
    dapat disangkal bahwa ada banyak orang bisnis dan juga perusahaan yg sangat
    menghayati pekerjaan dan kegiatan bisnisnya sebagai sebuah profesi. Mereka
    tidak hanya mempunyai keahlian dan ketrampilan yang tinggi tapi punya komitmen
    moral yang mendalam. Karena itu, bukan tidak mungkin bahwa bisnis pun dapat
    menjadi sebuah profesi dlm pengertian sebenar-benarnya bahkan
    ...SkAnDal EnRon 2003.... (Etika
    Bisnis Dan Profesi)



    BAB I


    PENDAHULUAN





    Beberapa
    tahun terakhir sangat berarti bagi profesi akuntan dan khususnya para auditor.
    Berbagai peristiwa telah memberi tantangan tetapi juga kesempatan dan pertumbuhan
    yang besar. Hal ini terjadi karena bursa saham menggelembung di akhir tahun
    1990-an, dipicu sebagian oleh spekulasi mengenai masa depan perusahaan
    “dotcom”, yang berlanjut dengan penciptaan “ kekayaan di atas kertas ” yang tak
    terduga. Hiruk pikuk di pasar keuangan membawa kepada gagasan mengenai “ekonomi
    baru” dan tampaknya menimbulkan perilaku egois dari perusahaan Amerika mengenai
    “ambil semua yang bisa kau raih, bagaimanapun caranya.”



    Gelembung
    bursa saham pecah di musim semi tahun 2000, dan pada musim gugur tahun 2001.
    Terungkap bahwa eksekutif puncak Enron, raksasa energi yang berpusat di Huston,
    Texas telah menipu investor secara curang mengelembungkan profitabilitas
    perusahaan dan apapun penyebabnya, Arthur Andersen sebagai kantor akuntan
    publik yang telah mengaudit laporan keuangan Enron telah gagal untuk melaporkan
    ketidaklayakan sistem akuntansi di Enron.



    Kecurangan
    akuntansi Enron bukan yang terbesar sepanjang sejarah, tetap mungkin yang
    paling terkenal karena mengakibatkan runtuhnya Arthur Anndersen dan memicu
    kemarahan yang hebat dari investor, kreditor, pembuat peraturan dan pemerintah.





























    BAB II


    PEMBAHASAN





    Enron Corporation adalah sebuah perusahaan energiAmerika yang berbasis di Houston, Texas, Amerika Serikat. Sebelum bangkrutnya pada akhir 2001, Enron mempekerjakan sekitar 21.000 orang pegawai dan
    merupakan salah satu perusahaan terkemuka di dunia dalam bidang listrik, gas
    alam, bubur kertas dan kertas, serta komunikasi. Enron mengaku penghasilannya
    pada tahun 2000 berjumlah $101 milyar.
    Fortune menamakan Enron "Perusahaan Amerika yang Paling
    Inovatif" selama enam tahun berturut-turut.







    2.1
    TINJAUAN UMUM KASUS ENRON CORPORATION



    Sejarah,
    kata Francis Fukuyama, telah berakhir dengan kemenangan demokrasi dan pasar
    bebas. Kenapa demokrasi Amerika tak bisa mengakhiri sejarah ketamakan manusia
    akan uang serta kekuasaan?



    Enron
    Corp. adalah “pencakar langit” dalam dunia bisnis Amerika, sama seperti Gedung
    World Trade Center yang menjulang tinggi di kota New York. Mirip Tragedi WTC,
    tapi minus darah dan kematian, Enron menguap jadi debu saat perusahaan itu
    menyatakan diri bangkrut pada 2 Desember lalu, kebangkrutan terbesar dalam
    sejarah bisnis Amerika sepanjang masa.



    Kali
    ini, tak ada Usamah bin Ladin atau Al Qaidah yang bisa menjadi kambing hitam.
    Publik Amerika dipaksa untuk menuding cacat dalam sistemnya sendiri-sistem
    ekonomi maupun politiknya-sebagai “teroris” yang merontokkan Enron secara
    mengejutkan itu.



    Mengejutkan
    dan mencengangkan. Belum lama berselang, perusahaan raksasa energi itu masih
    bertengger di peringkat ke-7 dalam “Fortune 500
    -daftar perusahaan terkaya dunia versi Majalah Fortune.
    Omset bisnisnya pada tahun 2000 lalu tercatat sekitar US$ 100 milyar,
    kurang-lebih sama dengan total pendapatan kotor negeri sebesar Indonesia pada
    tahun yang sama.



    Enron dipandang sukses menyulap diri dari sekadar
    perusahaan pipanisasi gas alam di Negara Bagian Texas pada 1985 menjadi raksasa
    global dalam beberapa tahun terakhir. Dia membeli perusahaan air minum di
    Inggris dan membangun pembangkit listrik swasta di India. Konsep bisnisnya yang
    visioner dan futuristik membuat dia menjadi anak emas di lantai bursa Wall
    Street. Harga sahamnya terus meroket.



    Akhir 1999, Enron meluncurkan EnronOnline yang dianggap
    akan mengubah wajah bisnis energi masa depan. Memanfaatkan Internet, divisi
    e-commerce itu membeli gas, air minum dan tenaga listrik dari produsen dan
    menjualnya kepada pelanggan atau distributor besar. Enron bahkan memperluas
    wilayah: membangun jaringan telekomunikasi berkecepatan tinggi serta bertekad
    menjual bandwidth jaringan itu seperti dia menjual gas dan listrik.
    Setelah itu mungkin dia akan jual-beli online untuk kertas daur
    ulang pabrik miliknya.



    Tak lama setelah dia memasuki bisnis jasa
    video-on-demand-menjual tayangan video kepada pelanggan via sambungan internet
    kecepatan tinggi–harga saham Enron mencapai puncaknya, US$ 90 per lembar, pada
    Agustus 2000. Meski kemudian merosot bersama jatuhnya saham-saham teknologi dan
    internet lain, pertengahan tahun lalu nilai pasar Enron (jumlah lembar saham
    dikalikan harganya) masih berkisar US$ 60 milyar, atau dua kali lipat anggaran
    belanja Indonesia.



    Miliaran dolar menguap
    hampir seketika. Pada Oktober 2001 Enron menjatuhkan bom di Wall Street dengan
    melaporkan kerugian ratusan juta dolar pada kwartal itu. Sangat mengejutkan
    karena Enron hampir selalu membawa berita gembira ke lantai bursa dengan selama
    empat tahun berturut-turut melaporkan keuntungan. Kabar buruk itu membanting
    harga saham Enron dari sekitar US$ 30 menjadi US$ 10 per lembar, hanya dalam
    hitungan hari.



    Securities Exchange
    Commission (SEC), badan pengawas pasar modal, membaui ada yang tidak beres dan
    mulai menggelar penyidikan. Dalam kondisi terdesak, Enron menjatuhkan bom lebih
    dahsyat lagi ke lantai bursa ketika pada 8 November mengakui bahwa
    keuntungannya selama ini adalah fiksi belaka. Enron merevisi laporan keuangan
    lima tahun terakhir dan membukukan kerugian US$ 586 juta serta tambahan catatan
    utang sebesar US$ 2,5 miliar.



    Harga saham Enron makin
    berkeping. Namun, pada akhir November, Enron sedikit bisa bernafas lega ketika
    Dynegy Inc, pesaingnya yang jauh lebih kecil, berniat membeli sahamnya dalam
    sebuah kesepakatan merger. Harapan itu tak berumur lama. Spiral kematian terus
    berlanjut. Dynegy mundur setelah Enron makin kehilangan kepercayaan investor
    dan rating kreditnya jatuh ke titik terendah-berstatus “junk-bond”.



    Dalam sebuah hari yang
    paling “berdarah”, ketika tak kurang seperempat milyar lembar sahamnya
    dipertukarkan di lantai bursa, harga Enron meluncur ke dasar jurang. Hanya
    puluhan sen nilainya. Beberapa hari kemudian Enron menyerah: mengajukan petisi
    bangkrut.



    Seperti timbunan besi dan
    beton bekas bangunan WTC di Manhattan, Enron adalah puing berdebu sekarang. Tapi,
    cerita tak berakhir di situ.



    Punahnya Enron
    meninggalkan kerugian milyaran dolar bagi investor. Sertifikat saham mereka tak
    lagi punya nilai-mungkin hanya layak dipajang dalam pigura untuk mengenang
    salah satu skandal keuangan terbesar di awal abad ini. Skandal Enron lebih
    dahsyat dari Skandal Saham Bre-X di Bursa Kanada beberapa tahun lalu. Saham
    Bre-X meroket hanya untuk terjun bebas setelah perusahaan itu mengaku bahwa
    tambang emasnya di Busang, Kalimantan, terbukti palsu.



    Kolapsnya Enron juga
    mengguncang neraca keuangan para kreditornya yang harus gigit jari meski telah
    mengucurkan milyaran dolar-JP Morgan Chase dan Citigroup adalah dua kreditor
    terbesarnya.



    Hujan tangis mewarnai
    dengar pendapat dalam sebuah komite kongres awal Januari ini ketika para
    karyawan Enron dan investor kecil-kecilan mengisahkan bagaimana simpanan hari
    tua mereka musnah hampir seketika. Sebagian besar dana pensiun dan tabungan
    20.000 karyawan Enron terikat dalam saham yang kini tiada nilai.



    Beberapa pekan sebelum
    bangkrut, Enron juga memecat sekitar 5.000 karyawannya, dari teknisi komputer
    di Texas hingga pendaur-ulang kertas di New Jersey, menambah beban pengangguran
    di Amerika yang sekarang sudah mencapai tingkat terburuk dalam 25 tahun
    terakhir.



    Dengan dampak demikian luas, drama sebenarnya-juga
    sirkus–bahkan baru saja dimulai. Skandal Enron menemukan bentuk barunya di
    panggung pertempuran hukum yang luas, baik pidana maupun perdata.
    Implikasi politiknya terbukti telah ikut mengguncang sekaligus
    Gedung Putih dan Capitol Hill (Gedung Kongres).



    Departemen Kehakiman kini menyidik kemungkinan adanya
    aspek pidana dalam kasus itu.
    Empat
    komite kongres, semacam panitia khusus (pansus) DPR di sini, giat mengaduk apa
    yang tersembunyi. Dan Departemen Tenaga Kerja mencoba mencari siapa yang
    bertanggungjawab atas kerugian besar para karyawan.



    Salah satu episode paling menarik akan dipertontonkan 4
    Februari mendatang ketika sebuah komite kongres mengundang aktor utama dalam
    drama ini: Kenneth L. Lay, presiden komisaris sekaligus direktur Enron. Ken Lay
    akan ditanyai banyak hal. Salah satunya: bagaimana bisa dia meraup untung
    ratusan juta dolar dari penjualan saham Enron sementara ribuan karyawan nyaris
    kiamat hidupnya tanpa perlindungan?



    Sejak akhir tahun 2000, ketika harga saham Enron di posisi
    puncak, para eksekutif menjual saham yang mereka miliki dengan total nilai US$
    1,1 milyar. Selama empat tahun terakhir, Ken sendiri diperkirakan meraup untung
    US$ 205 juta dari penjualan sahamnya. Dalam kurun yang sama dia membujuk
    karyawan dan investor untuk membeli saham Enron, antara lain dengan iming-iming
    laporan keuangan yang menjanjikan tapi palsu itu.



    Bahkan pada 26 September 2001, ketika harga saham jatuh
    menjadi US$ 25 per lembar, Ken Lay masih mencoba menghibur karyawan untuk tidak
    menjualnya, sebaliknya membujuk mereka membeli. Dalam e-mail yang dikirimkan
    kepada para karyawan yang risau, dia mengatakan perusahaan dalam kondisi sehat
    secara keuangan dan bahwa harga saham Enron “luar biasa murah” dalam posisi
    itu. Namun, hanya beberapa pekan kemudian, Enron melaporkan kerugian yang
    bermuara pada kebangkrutannya. Para karyawan tak bisa menjual saham mereka
    sampai semuanya sudah terlambat: Enron kehilangan nilai sama sekali.



    Pertanyaan penting lain akan menyangkut inti dari skandal
    ini: Mengapa Lay membolehkan para eksekutif Enron membentuk sejumlah perusahaan
    rekanan rahasia dengan institusi di luar yang tidak jelas reputasinya? Tidakkah
    dia dan dewan direksi mengeduk keuntungan dari perusahaan rekanan itu,
    sekaligus menyembunyikan hutang Enron di situ sehingga neraca keuangan Enron
    tetap nampak manis padahal kenyataannya busuk?



    Pertanyaan serupa akan diajukan para penyidik kepada para
    eksekutif di Arthur Andersen, perusahaan akuntan publik yang memeriksa laporan
    keuangan Enron.
    Bagaimana
    bisa mereka kecolongan selama beberapa tahun tanpa menandai penyimpangan dalam
    akutansi Enron yang agresif, bahkan kriminal itu?
    Seberapa banyak Andersen tahu tentang pemusnahan sejumlah
    dokumen audit Enron oleh salah satu auditornya? Pertanyaan yang lebih kejam:
    tidakkah Andersen ikut terlibat mempermak laporan keuangan mengingat Enron
    membayar mahal perusahaan itu-US$ 52 juta pada tahun 2000-tak hanya untuk jasa
    audit tapi juga jasa konsultasi?



    Tapi, soal bisa akan
    lebih sederhana andai saja hanya Ken Lay, atau Arthur Andersen, yang bisa jadi
    kambing hitam. Skandal Enron tak sesederhana itu.



    Jebolnya pertahanan
    berlapis
    , Majalah Newsweek menulis, skandal ini cukup menakutkan. Yakni
    kegagalan sistemik, sesuatu yang sebenarnya tercermin jelas dalam Tragedi 11
    September. Saat itu, semua perangkat seperti bisu dan tuli tak bisa mencegah
    teroris membajak empat pesawat, menabrakkannya ke pencakar langit dan membunuh
    ribuan orang. Dalam kasus Enron, sistem kontrol berlapis-lapis tidak bisa
    mencegah segelintir orang memuaskan ketamakan di atas penderitaan banyak orang.



    Para direktur perusahaan
    publik punya kewajiban legal dan moral untuk memberikan data keuangan yang
    jujur-para direksi Enron tidak melakukannya.



    Fungsi auditor independen
    tak hanya memastikan bahwa laporan keuangan sebuah perusahaan sesuai dengan
    aturan dan standar akutansi, tapi juga memberi investor maupun kreditor
    gambaran yang fair serta akurat tentang apa yang terjadi. Andersen gagal di dua
    lapangan itu.



    Para analis di Wall Street diharapkan menyiangi secara
    kritis apa yang tersembunyi di balik angka-angka-tak satupun melakukannya.
    Bahkan nyaris tak satu pun para wartawan bisnis-pilar keempat demokrasi-mampu
    mengendus keanehan Enron sampai kebusukan telah demikian menusuk hidung.



    Skandal Enron tak hanya menyangkut
    episode ketika perusahaan itu rontok tiba-tiba.
    Tapi, juga misteri bagaimana dia mencuat
    menjadi raksasa yang meteorik. Dan ini merupakan bagian yang lebih menakutkan
    lagi karena menyangkut aspek politik dan ekonomi lebih luas, tak sekadar sektor
    keuangan
    .


    Tuntutan hukum terhadap para direktur Enron, setelah
    skandal tersebut, sangat menonjol karena para direkturnya menyelesaikan
    tuntutan tersebut dengan membayar sejumlah uang yang sangat besar secara
    pribadi. Selain itu, skandal tersebut menyebabkan dibubarkannya perusahaan
    akuntansi
    Arthur Andersen, yang akibatnya dirasakan di kalangan dunia
    bisnis yang lebih luas, seperti yang digambarkan secara lebih terinci di bawah.



    Enron masih ada sekarang
    dan mengoperasikan segelintir aset penting dan membuat persiapan-persiapan
    untuk penjualan atau spin-off sisa-sisa bisnisnya. Enron muncul dari
    kebangkrutan pada November 2004 setelah salah satu kasus kebangkrutan terbesar
    dan paling rumit dalam sejarah AS. Sejak itu, Enron menjadi lambang populer
    dari penipuan dan korupsi korporasi yang dilakukan secara sengaja.
    Para pemegang saham Enron Corp dan investor
    akan membagi dana lebih dari USD7,2 miliar dari lembaga keuangan yang dituduh
    berperan dalam kejatuhan raksasa energi itu.
    Dana penyelesaian ini merupakan yang terbesar dalam sejarah kasus kecurangan
    keuangan Amerika Serikat. Jumlah USD7,2 miliar itu terus membengkak sejak 2002,
    dari bertambahnya bunga dan termasuk biaya sebesar USD688 juta untuk biaya
    pengacara.









    2.2
    TANGGAPAN PUBLIK PASCA KASUS ENRON CORPORATION








    Sebagaimana
    diketahui, kasus Enron muncul menyebabkan indeks pasar modal Amerika jatuh
    sampai 25%.
    Untungnya pemerintah federal bertindak
    cepat sebelum sistem ekonomi kapitalis yang ditopang oleh sistem “utang”
    melalui “pasar modal” itu hancur. Pemerintah berupaya mengangkat kembali
    kepercayaan pasar terhadap sistem itu dan waktu itu Presiden George W Bush
    bersengaja datang ke lantai Bursa Efek New York (New York Stock Exchange)
    membuka pasar trading waktu itu dan menunjukkan komitmen pemerintah federal
    untuk memperbaiki martabat pasar modal terutama menghindari praktik praktik
    kecurangan yang semakin banyak terjadi waktu itu.



    Pada
    saat yang bersamaan Kongres Amerika juga bertindak cepat. Senator Sarbanes dan
    Oxley berinisiatif untuk menyusun Undang Undang tentang Pertanggungjawaban
    Perusahaan Public dan akhirnya dengan cepat draft itu disetujui kongres dan
    langsung diundangkan Presiden Bush pada akhir tahun 2001 dan menjadi efektif
    berlaku saat itu. Sarbanes Oxley Act ini sangat mempengaruhi professi akuntan
    dan pasar modal sehingga saat ini menjadi isu yang menjadi perhatian dalam
    setiap kegiatan akuntansi karena mempengaruhi professi, auditor, manajemen dan
    kelembagaan.



    Sebagaimana
    diketahui Sarbanes Oxley Act ini mewajibkan semua pihak untuk menjaga dan
    melindungi perusahaan dari praktik kecurangan sehingga manajemen, akuntan
    diminta untuk membuat surat pernyataan dan menjamin agar pelaksanaan internal
    control yang dapat menghindari kecurangan itu diterapkan. Memang selama ini
    bukan berarti konsep dan sistem control itu tidak ada.
    Namun karena berbagai factor psikologis dan dorongan
    motivasi ekonomis maka hal itu sering diabaikan demi untuk memenuhi dan
    memuaskan kepentingan pribadi pihak yang ikut bermain di pasar modal.
    Tanggungjawab manajemen ditingkatkan, sistem pengawasan dan fungsi komite audit
    diperberat dan professi akuntan independent di tata kembali, dan pemantau
    independent perusahaan publikpun Public Company Accounting Oversight Board
    (PCAOB) di bentuk.



    Tentang
    akuntan misalnya dibatasi jasa yang boleh diberikan kantor akuntan, lama
    memberikan jasa dibatasi sehingga harus dilakukan rotasi dalam jangka waktu 5
    tahun, kualitas pengungkapan di perketat dan hukuman yang melanggarnya juga
    diperberat. Ketentuan ini tentu berlaku bagi semua perusahaan yang terdaftar di
    pasar bursa Amerika dan juga bagi perusahaan yang lain yang beroperasi di luar
    negeri atau perusahaan lain dari luar Amerika yang mendaftarkan sahamnya untuk
    diperdagangkan di Amerika. Ketentuan ini sedikit banyaknya mempengaruhi
    professi akuntan di Tanah Air.



    Salah
    satu hal yang ditekankan pasca Skandal Enron atau pasca Sarbanes Oxley Act ini
    adalah perlunya Etika Professi. Selama ini bukan berarti etika professi tidak
    penting bahkan sejak awal professi akuntan sudah memiliki dan terus menerus
    memperbaiki Kode Etik Professinya baik di USA maupun di Indonesia. Etika adalah
    aturan tentang baik dan buruk. Kode etik mengatur anggotanya dan menjelaskan
    hal apa yang baik dan tidak baik dan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan
    sebagai anggota professi baik dalam berhubungan dengan kolega, langganan,
    masyarakat dan pegawai. Kenyataannya konsep etika yang selama ini dijadikan
    penopang untuk menegakkan praktik yang sehat yang bebas dari kecurangan
    tampaknya tidak cukup kuat menghadapi sifat sifat “selfish dan egois”,
    kerakusan ekonomi yang dimiliki setiap pelaku pasar modal, dan manajemen yang
    bermoral rendah yang hanya ingin mementingkan keuntungan ekonomis pribadinya.



    Walaupun
    semakin banyak aturan yang dikeluarkan oleh Standard Setting Body seperti FASB
    (Financial Accounting Standard Board) atau Regulator pemerintah seperti SEC
    (Security Exhange Commission) namun kecurangan selalu dapat ditutupi dan dicari
    celah sehingga sampai pada puncaknya dimana kecurangan itu terungkap dan
    menyebabkan kerugian semua pihak terutama investor dan berakibat pada hilangnya
    kepercayaan masyarakat kepada professi akuntan dan sistem pasar modal.



    Untuk
    itulah maka profesi Akuntansi harus berupaya menguak semua kemungkinan
    kecurangan yang ditimbulkan oleh informasi akuntansi melalui laporan keuangan.
    Akuntansi/Auditing harus bisa menyusun sistem sehingga bisa menghindari,
    mendeteksi, menemukan, menetapkan pelakunya, menyiapkan investigasi dan bahkan
    membantu membawanya ke pengadilan.
    Penyusunan
    sistem merupakan bidang sistem pengawasan atau Internal Management Control
    System yang meliputi misalnya internal audit system, internal audit charter,
    audit committee, independent audit dan sebagainya. Sedangkan akuntansi/auditing
    harus bisa menditeksi, menemukan segala bentuk kecurangan, jenis dan tata cara
    yang dilakukan melalui laporan keuangan, serta bisa membawanya ke pengadilan.



    Dari
    kisah ini dapat kita tarik pelajaran bahwa memang dalam system sekuler dimana
    moral dinomor duakan maka akan besar peluang munculnya godaan yang
    mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Di Amerika dengan keluarnya UU Sarbanes
    Oxley (SOA) itu ternyata dapat mengerem semakin terpuruknya kepercayaan publik
    terhadap profesi akuntan. Nah di Indonesia kita tidak memiliki UU seperti SOA
    ini dan sebenarnya kita memiliki banyak UU yang sejalan dengan upaya
    pemberantasan kecurangan, korupsi ini. Bahkan kita banyak sekali memiliki
    aparat pengawas, auditor dan pemeriksa seperiti BPK, BPKP, Inspektorat, KPK
    Bawasda dan sebagainya namun kenyataannya praktik korupsi semakin marak dengan
    gaya yang berbeda. Akuntan selaku bagian dari upaya dalam menegakkan Good
    governance di Indonesia perlu menyusun strategi bagaimana peran yang akan
    dilakukannya untuk mencegah praktik korupsi dan pemborosan yang t
    erjadi di negara ini.







































    BAB III


    KESIMPULAN





    Kasus
    Enron Corporation terjadi akibat keegoisan satu pihak terhadap pihak lain,
    dalam hal ini pihak-pihak yang selama ini diuntungkan atas penipuan laporan
    keuangan terhadap pihak yang telah tertipu. Untuk itulah kode etik profesi
    harus dibuat untuk menopang praktik yang sehat bebas dari kecurangan. Kode etik
    mengatur anggotanya dan menjelaskan hal apa yang baik dan tidak baik dan mana
    yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebagai anggota professi baik dalam
    berhubungan dengan kolega, langganan, masyarakat dan pegawai.



    Sumber
    :



    http://wen2cool.blogspot.com/


    2. menjadi sebuah profesi luhur.


    Sumber=http://abiyogapradipta.blogspot.com/2009/11/etika-bisnis-dan-profesi-yang-luhur.html


    Etika Bisnis dan Profesi , Sebuah Kepatutan


    Memegang teguh etika adalah keniscayaan karena
    tanpa etika, profesi tidak dapat dipercaya oleh kalangan bisnis.
    Ketidakpercayaan mengakibatkan bisnis menjadi terhambat dan macet. Macetnya
    bisnis berbagai perusahaan berdampak pada ekonomi negara. Demikian penuturan
    Drs I Cenik Ardana, Ak, MM, dosen tetap Fakultas Ekonomi Universitas
    Tarumanagara dalam bedah buku ”Etika Bisnis dan Profesi: Tantangan Membangun Manusia
    Seutuhnya” pada Jumat, 8 Mei 2009 di Ruang Seminar
    Gedung A Lantai III.




    Acara Bedah Buku yang merupakan hasil kerja sama antara Jurusan Akuntansi dan
    Manajemen ini dihadiri oleh 60 peserta yang terdiri atas mahasiswa dan dosen.
    Acara dibuka langsung oleh Dekan FE UNTAR Prof. Dr. Sukrisno Agoes, Ak, MM.
    Pada sambutannya, Dekan berpesan agar acara ini dapat memacu rekan-rekan
    dosen lainnya untuk turut menulis buku, tidak semata motivasi finansial saja
    tetapi juga tanggung jawab selaku pendidik yang mau berbagi pengalaman kepada
    anak didik dan masyarakat luas.




    Pada bagian lain uraiannya, Drs I Cenik Ardana, Ak, MM yang berkolaborasi
    dengan Prof Dr Sukrisno Agoes, Ak, MM, dekan FE UNTAR dalam penyusunan buku
    ini, menjelaskan bahwa etika dapat dibagi atas etika teoritis dan terapan.
    Etika teoritis menyangkut hakikat alam semesta, manusia, filsafat, agama,
    etika, hukum dan teori etika. Etika terapan meliputi bisnis dan profesi. Etika
    bisnis terkait dengan ekonomi, bisnis, stakeholders, GCG, CSR, prinsip etika
    bisnis dan etika lingkungan.




    Dalam kaitannya dengan pembangunan manusia yang utuh, Drs I Cenik Ardana,
    MM, Ak membagi ke dalam dua paradigma yaitu manusia tidak utuh dan utuh.
    Paradigma manusia tidak utuh adalah manusia yang kaya tapi tidak bahagia, makan
    enak tapi kurang olah raga. Manusia utuh adalah manusia yang bahagia, makan
    sehat dan olah raga.



    Lebih lanjut Drs I Cenik Ardana, MM, Ak
    juga mengemukakan mengenai model 4 dimensi bisnis spiritual yaitu paradigma
    perusahaan tercerahkan sebagai pengembangan model 3 dimensi CSR. Keempat
    dimensi tersebut adalah pemujaan kepada Tuhan (God Devotion), planet
    (conservation), laba (profit) dan kemakmuran (prosperous/society).



    Di Fakultas Ekonomi UNTAR, Etika Bisnis dan
    Profesi adalah mata kuliah yang diajarkan kepada mahasiswa. Ini tidak lepas
    dari suatu harapan bahwa mahasiswa yang nantinya akan menjadi pelaku bisnis
    dapat menjadi manusia yang utuh, yang beretika, yang tidak hanya cerdas secara
    intelektual tapi juga emosional dan spiritual. Sebuah cita-cita mulia.



    http://www.tarumanagara.ac.id/index.aspx?n=48&s=371


      Waktu sekarang Tue Nov 21, 2017 9:47 pm